Monday, April 13, 2009

Selamat Menghadapi Exam


Friday, April 3, 2009

Keteguhan Sumaiyah



SUMAYYAH BINTI KHAYYAT adalah hamba daripada kaum makhzum. Dia dikahwinkan dengan Yassir oleh majikannya. Mereka dikurniakan dua orang anak lelaki. Pada peringkat awal penyebaran Islam di Mekah, Sumayyah dan suaminya Yasir sudah tua. Kedua-dua anak teruna semakin dewasa. Anak lelaki sumayyah iaitu Ammar sedang meneliti aliran agama islam yang mulah tersebar di bandar mekah secara rahsia. Ammar mendapat tahu agama islam dibawa dan diseru orang seorang lelaki yang bernama Muhammad bin Abdullah. Ammar menyiasat dan menjejaki pengikut-pengikut muhammad dengan berhati-hati, bimbang diketahui oleh orang-orang quraisy yang menjadi musuh utama muhammad. Akhirnya, Ammar tiba di rumah yang menjadi tempat berkumpul muhammad dan orang-orang yang beriman.

Apabila tiba di kawasan rumah itu Ammar terserempak dengan orang yang asing di mekah. Orang itu adalah suhaib yang baru tiba dari negeri rom. Mereka berdua terus berjumpa dengan nabi muhammad dan mendengar dengan lebih dekat ajaran islam daripadanya. Kedua-dua pemuda itu beriman dengan nabi muhammad dan menjadi orang islam. Tanpa berlengah lagi, ammar terus kembali kerumahnya. Sebaik sahaja tiba di rumahnya, dia pun menceritakan pengalaman barunya kepada kedua ibu bapanya dan menerangkan maksud islam. Ammar menyampaikan seruan yang di bawa oleh nabi muhammad bin Abdullah kepada orang-orang di mekah. Seterusnya, ammar mengajak kedua ibu bapanya memeluk islam.

Sumayyah dan suaminya, Yasir bersetuju memeluk islam. Sumayyah adalah orang ke-7 beriman dengan Nabi Muhammad dan memeluk agama islam pada usia yang tua. Apabila majikan dan kaum Makhzum mengetahui Sumayyah dan ahli keluarganya mengikut agama islam yang di seru Nabi Muhammad, mereka marah dan menganggap seluruh keluarga Sumayyah sebagai orang gila. Apatah lagi Sumayyah dan ahli keluarganya berani menonjolkan diri sebagai orang islam. Mereka tidak merahsiakan keimanan kepada seruan yang di bawa oleh Nabi Muhammad. Majikannya dan kaum Makhzum menganggap ahli keluarga Sumayyah sebagai berani menunjukkan tentangan dan cabaran kepada mereka. Selama ini, mereka melarang dan memberi peringatan bahawa sesiapa sahaja yang menerima ajaran Nabi Muhammad akan menerima balasan.

Penyeksaan

Keluarga sumayyah menerima siksaan yang berat. Mereka sekeluarga di bawa dan diheret keluar dari bandar mekah. Selepas diheret di tengah gurun yang panas, mereka di ikat pada batu ataupun kayu. Mereka ditinggalkan di bawah panas matahari dengan harapan mereka dan pedih dengan seksaan di lakukan keatas mereka. Sumayyah, wanita yang sudah tua juga menerima seksaan seperti orang lelaki. Bagi wanita tua, sudah tentu tubuhnya tidak kuat untuk menerima seksaan yang berat. Namun, iman Sumayyah tetap utuh. Dia bersabar atas segala ujian yang diterima. Dia memperhtahankan imannya walaupun diseksa dengan teruk sekali. Sumayyah yang sabar dan teguh iman menyebabkan orang-orang quraisy rasa tercabar dan malu kerana menyeksa wanita itu. Sumayyah dianggap pejuang wanita Islam yang beriman dan ini menambahkan kemarahan orang-orang quraisy di mekah.

Pada suatu hari, Abu Jahal datang berjumpa Sumayyah dengan tujuan memujuk meninggalkan agama yang dicintainya. Tetapi Sumayyah tidak mudah dipujuk dan jawapan yang diberikan kepada Abu Jahal membuatkan Abu Jahal malu dan merasa egonya dicabar. Abu Jahal hilang pertimbangan, lalu mencabut pedangnya dan menikam Sumayyah. Tikaman itu menyebabkan Sumayyah mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad. Sumayyah adalah antara orang pertama yang mati syahid bagi menegakkan agama islam. Nabi muhammad yang mendengar kematian Sumayyah berkata kepada Yasir, “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir! Sesunguhnya kamu akan dimasukkan kedalam syurga!”

Monday, February 16, 2009

12 AZAB BAGI MEREKA YANG MENINGGALKAN SEMBAHYANG

Dalam sebuah hadis menerangkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : "Barangsiapa yang mengabaikan solat secara berjemaah maka Allah S.W.T akan mengenakan 12 tindakan yang merbahaya ke atasnya. Tiga darinya akan dirasainya semasa di dunia ini antaranya :-

1. Allah S.W.T akan menghilangkan berkat dari usahanya dan begitu juga terhadap rezekinya.
2. Allah S.W.T mencabut nur orang-orang mukmin daripadanya.
3. Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.


Tiga macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya :

1. Ruh dicabut ketika dia di dalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah meminum seluruh air laut.
2. Dia akan merasa yang amat pedih ketika ruh dicabut keluar.
3. Dia akan dirisaukan akan hilang imannya.


Tiga macam bahaya yang akan dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :-

1. Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat mungkar dan nakir yang sangat menggerunkan.
2. Kuburnya akan menjadi cukup gelap.
3. Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari).


Tiga lagi azab nanti di hari kiamat, antaranya :

1. Hisab ke atsanya menjadi sangat berat.
2. Allah S.W.T sangat murka kepadanya.
3. Allah S.W.T akan menyiksanya dengan api neraka.

Sunday, February 15, 2009

Boikot Barangan Israel!!

Wednesday, November 12, 2008

Kesedihan 2

“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Bukhari dan Muslim)


Menyadari bahwa syurga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit. Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam syurga. Fikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk syurga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahawa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk syurga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih syurga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Al-baqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih. Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: syurga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya. Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan.

“Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita.

Kesedihan


“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Bukhari dan Muslim).

Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi. Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung. Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain. Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan.

Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt. Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

 
Laman Utama © 2007 Template feito por Templates para Você
/*